Papeda adalah Makanan Pokok Kebanggaan Orang Papua dan Maluku yang Kaya Gizi

Papeda adalah Makanan Pokok Kebanggaan Orang Papua dan Maluku yang Kaya Gizi
Papeda adalah Makanan Pokok Kebanggaan Orang Papua dan Maluku yang Kaya Gizi

TIYARMANGULO.COM
- Papeda merupakan makanan khas Indonesia Timur yang terbuat dari sagu. Dalam bahasa Unanwatan, papeda dikenal dengan sebutan dao. Berbeda dengan masyarakat Indonesia Barat yang makan nasi, orang-orang di Indonesia timur, khususnya Maluku dan Papua, mengonsumsi papeda sebagai makanan pokok. Tampilannya sendiri terbilang unik, tetapi jangan remehkan kandungan gizinya. Selain kaya serat, papeda juga rendah kolesterol dan bernutrisi. Papeda memiliki nutrisi esensial seperti protein, karbohidrat, kalsium, fosfor, zat besi, dan lain-lain. Bahkan, rutin mengkonsumsi papeda dapat meningkatkan kekebalan dan daya tahan tubuh, serta mengurangi risiko terjadinya kanker usus.

Berasal dari Batang Pohon Sagu

Papeda berasal dari batang Metroxylon sagu Rottb alias pohon sagu. Lebih tepatnya, tepung sagu lah yang kemudian disulap menjadi papeda. Masyarakat Indonesia Timur biasa mencari sendiri pohon-pohon sagu ke hutan dan pelosok rawa-rawa demi mendapatkan tepung sagu berkualitas baik. Setiap pohon sagu bisa menghasilkan 150 hingga 300 kilogram tepung. Barulah tepung tersebut kemudian diolah agar menjadi papeda untuk dimakan.

Dari Tradisi Masyarakat Sentani hingga Menjadi Makanan Sehari-hari

Sejarah papeda dapat ditelusuri melalui tradisi masyarakat adat Sentani dan Abrab di Danau Sentani dan Arso, serta Manokwari. Mereka kerap menyajikan kuliner berbahan dasar sagu ini dalam acara-acara penting. Papeda dijadikan sebagai makanan sakral dalam ritual peringatan masa pubertas gadis tersebut.

Dipercaya sebagai Jelmaan Manusia

Bagi orang Papua, papeda bukanlah sekadar panganan pokok. Lebih dari itu, papeda juga mengandung unsur mitologi di dalamnya. Suku-suku di Papua meyakini jika sagu, yang kemudian diolah menjadi papeda, merupakan penjelmaan dari manusia. Itulah mengapa, saat memanen sagu, masyarakat di Raja Ampat acap menggelar upacara khusus. Adapun upacara tersebut merupakan bentuk rasa syukur dan penghormatan mereka akan hasil panen (sagu) yang melimpah.

Kerap Muncul di Acara-Acara Penting Orang Timur

Papeda mempunyai nilai kesakralan tersendiri bagi masyarakat Indonesia Timur. Itu sebabnya ia hadir dalam acara-acara penting. Selain dalam tradisi "Sonar Mohne," santapan bertekstur kenyal ini juga muncul dalam upacara adat Papua "Watani Kame." Di Inanwatan, papeda bersama daging babi juga menjadi makanan yang wajib disajikan saat upacara kelahiran anak pertama. Di daerah tersebut, papeda juga dimakan oleh wanita-wanita ketika proses pembuatan tattoo sebagai penahan rasa sakit. Sementara itu, di Pulau Seram, Maluku, Suku Nuaulu dan Suku Huaulu juga melarang wanita yang sedang dalam masa haid dari memasak papeda, karena menurut mereka proses merebus sagu menjadi papeda dianggap tabu.

Disantap dengan Sumpit Khusus

Ketika makan nasi, biasanya kita menggunakan sendok atau langsung dengan tangan. Namun, berbeda dengan papeda yang memerlukan perkakas khusus. Untuk menyantap papeda, perlu menggunakan sepasang sumpit atau dua garpu khusus. Perkakas tersebut dibutuhkan sebagai alat untuk mengambil dan menyantap papeda. Cara memakan papeda adalah dengan menggulung-gulung hingga bubur papeda melingkari sumpit atau garpu. Kemudian, letakkan di piring dan siap disantap bersama kuah kuning. Tidak perlu mengunyahnya, melainkan langsung menyeruput dan menelan papeda.

Teman Makan Ikan Kuah Kuning

Papeda paling enak disantap saat masih panas karena teksturnya masih kenyal dan lembut. Di samping itu, olahan sagu ini juga sedap jika dimakan bersama ikan kuah kuning. Papeda ikan kuning adalah salah satu kuliner yang mudah dijumpai di daerah Papua maupun Maluku. Makanan ini terbuat dari ikan cakalang atau ikan tongkol yang dimasak dengan berbagai bumbu. Untuk menikmatinya, cukup mencelupkan papeda yang sudah digulung ke dalam kuah ikan. Sensasi lembutnya papeda menyatu sempurna dengan cita rasa kuah ikan kuning yang asam dan pedas.

Bertransformasi Menjadi Jajanan 'Papeda' Gulung

Dewasa ini, papeda telah bertransformasi menjadi jajanan anak SD dengan nama papeda gulung. Meskipun tersemat kata "papeda," camilan ini tidak terbuat dari sagu, melainkan tepung tapioka. Itu sebabnya, jajanan ini juga dikenal sebagai "cilung" alias "aci digulung." Selain papeda gulung, juga muncul inovasi lain berupa seblak papeda, yang nyatanya juga tidak mengandung bahan dasar papeda itu sendiri.

Dari Timur Indonesia hingga Menjadi Warisan Budaya

Papeda yang mulanya adalah makanan pokok masyarakat Indonesia Timur kini telah dikenal bahkan hingga ke mancanegara. Keunikan yang dimilikinya lantas membawa papeda dinyatakan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2015. Kemudian, tepat di hari ini, Jumat (20/10), papeda menjadi Google Doodle yang semakin membuatnya dikenal oleh lebih banyak orang. Kuliner khas Indonesia apa lagi yang bakal menjadi Google Doodle ke depannya?

Itulah beberapa fakta menarik tentang papeda, makanan khas Indonesia Timur yang menjadi Google Doodle hari ini. Bagi Anda yang belum pernah mencoba, mungkin saatnya mencicipi makanan yang kaya akan gizi dan memiliki nilai budaya yang tinggi ini. Papeda adalah contoh nyata bagaimana makanan dapat menjadi bagian penting dari budaya dan sejarah suatu daerah.***

Post a Comment for "Papeda adalah Makanan Pokok Kebanggaan Orang Papua dan Maluku yang Kaya Gizi"