Tentang Serbuan Massa di Bandara Dagestan

Tentang Serbuan Massa di Bandara Dagestan
Tentang Serbuan Massa di Bandara Dagestan | republik.id
Ratusan orang mengamuk dan menyerbu Bandara Dagestan, wilayah yang berada di bawah kekuasaan Rusia. Mereka masuk hingga ke landasan pesawat dengan agenda yang kontroversial. Slogan-slogan antisemit berkumandang, dan target mereka adalah penumpang yang baru saja tiba dalam penerbangan dari ibu kota Israel, Tel Aviv.

Menurut laporan agensi berita Rusia dan berbagai laman media sosial, kerumunan massa ini mendekati pesawat terbang yang dioperasikan oleh maskapai milik Rusia, Red Wings. Mereka mengitari pesawat, menciptakan kekacauan di bandara tersebut, dan memaksa otoritas setempat untuk menutup bandara. Tidak hanya itu, aparat kepolisian juga bersiaga di fasilitas tersebut, siap untuk menghadapi kerusuhan tersebut.

Upaya damai dilakukan oleh Menteri Kepemudaan Dagestan, Kamil Saidov, yang berusaha untuk meredakan amarah massa. Dalam pernyataannya, ia menekankan pentingnya tidak menggunakan kekerasan dan bersama-sama mencari solusi. Dia menyatakan bahwa bantuan disediakan bagi mereka yang membutuhkan dan meminta agar kerusuhan tidak terjadi di bandara tersebut.

Namun, insiden ini tidak terlalu damai. Kementerian Kesehatan Dagestan melaporkan lebih dari 20 orang terluka akibat serbuan tersebut, dengan dua di antaranya dalam kondisi kritis. Para korban terdiri dari petugas polisi dan warga sipil. Lebih lanjut, enam puluh orang ditahan dalam kerusuhan tersebut. Apakah mereka akan dihadapkan pada tuntutan hukum masih belum jelas.

Tentang Serbuan Massa di Bandara Dagestan

Presiden Rusia, Vladimir Putin, merespons cepat dengan mengadakan pertemuan dengan para pejabat tinggi keamanan dan penegak hukum pada hari Senin. Hal ini menunjukkan seriusnya pemerintah Rusia dalam menangani insiden ini.

Provokasi dari luar adalah klaim yang muncul dari pihak Rusia terkait serbuan ini. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengatakan bahwa serbuan massa anti-Israel di bandara Makhachkala adalah hasil dari provokasi yang diatur dari luar Rusia. Menurutnya, Ukraina memainkan peran kunci dalam provokasi ini.

Ilya Ponomaryov, seorang bekas pengacara Rusia yang kini tinggal di Ukraina, disebut sebagai tokoh yang terlibat dalam provokasi ini. Ponomaryov, yang merupakan partisan anti-Kremlin, dituduh terlibat dalam peristiwa ini meskipun ia telah memutuskan hubungan dengan kelompok tersebut.

Pihak Ukraina membantah keterlibatan mereka dalam serbuan di Bandara Dagestan. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, mengutuk kekerasan tersebut dan menyalahkan Rusia atas penyebaran budaya kebencian yang dia klaim merajalela.

Meskipun bandara tersebut telah dibuka kembali, kerusakan yang terjadi masih perlu diperbaiki. Pihak maskapai juga menyatakan bahwa penerbangan ke Israel akan dibatalkan selama beberapa hari ke depan. Selain itu, Kremlin mengumumkan bahwa Presiden Vladimir Putin telah mengumpulkan para penasihat puncak dan pimpinan intelijen untuk membahas potensi upaya-upaya pihak Barat dalam memanfaatkan peristiwa di Timur Tengah untuk memecah belah masyarakat Rusia.

Mufti Dagestan, Sheikh Akhmad Afandi, memperingatkan agar umat Muslim di kawasan tersebut tidak bereaksi secara negatif terhadap apa yang terjadi di Gaza. Ia menekankan pentingnya mencari solusi damai dan tidak membiarkan kebencian menguasai tindakan.

Selain serbuan di Bandara Dagestan, insiden lain terjadi di Rusia. Pusat Yahudi di Kabardino-Balkaria, wilayah Kaukasus Utara, dikabarkan terbakar. Wilayah pegunungan Kaukasus Utara telah lama menjadi tempat bagi komunitas Yahudi, dan insiden ini menjadi tanda keprihatinan atas ketegangan yang berkembang.

Para pemimpin agama juga berbicara dalam konteks ini. Pemimpin Ortodoks Rusia, Patriarch Kirill, mengutuk kekerasan dan menyatakan bahwa kekuatan luar terlibat dalam insiden ini. Ia memperingatkan bahwa kekuatan tersebut tidak akan berhenti menghasut kekacauan di negara mereka.

Pada akhirnya, insiden di Bandara Dagestan dan peristiwa terkait menunjukkan kompleksitas situasi politik dan etnis di wilayah ini, serta upaya pihak luar yang berpotensi memanfaatkan ketegangan untuk mencapai tujuan mereka. Dalam situasi seperti ini, penyelesaian damai dan pemahaman saling adalah yang dibutuhkan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.***

#SerbuanBandara #Dagestan #Kerusuhan #Antisemitisme #Ukraina

Post a Comment for "Tentang Serbuan Massa di Bandara Dagestan"