Pengumuman Hasil Pemeriksaan Etik Hakim Mahkamah Konstitusi: Demi Keadilan yang Pasti dan Cepat

Pengumuman Hasil Pemeriksaan Etik Hakim Mahkamah Konstitusi: Demi Keadilan yang Pasti dan Cepat
Pengumuman Hasil Pemeriksaan Etik Hakim Mahkamah Konstitusi: Demi Keadilan yang Pasti dan Cepat | antaranews.com
Pada Selasa (7/11), Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK) akan mengumumkan hasil pemeriksaan sembilan hakim MK terkait dugaan pelanggaran etik di balik putusan tentang syarat usia calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Pemeriksaan ini telah berlangsung secara maraton sejak Selasa (31/10). Hari pertama pemeriksaan, MKMK menggelar sidang Ketua MK Anwar Usman, hakim Arief Hidayat, dan hakim Enny Nurbaningsih.

Langkah selanjutnya adalah pada Rabu (1/11) ketika MKMK menyidang tiga hakim konstitusi, yaitu Saldi Isra, Manahan M.P. Sitompul, dan Suhartoyo. Pada Kamis (2/11), MKMK memeriksa hakim konstitusi Wahiduddin Adams, Daniel Yusmic, dan Guntur Hamzah.

Sebuah poin menarik dalam pemeriksaan adalah Anwar Usman, ketua MK yang diperiksa dua kali dalam sidang dugaan pelanggaran kode etik hakim konstitusi. Hal ini disebabkan oleh jumlah laporan yang diterima oleh MKMK yang paling banyak berkaitan dengan Anwar. Sebanyak 21 laporan masuk, dan Anwar menjadi hakim konstitusi dengan jumlah pelaporan terbanyak.

Jimly Asshiddiqie, Ketua MKMK, menjelaskan bahwa Anwar diperiksa dua kali karena jumlah laporan yang paling banyak, dan untuk memberinya kesempatan untuk memberikan klarifikasi terkait laporan-laporan ekstrem yang diterimanya. Pemeriksaan ini membahas banyak hal, terutama terkait proses Rapat Permusyawaratan Hakim (RPH), terutama terkait alasan Anwar Usman absen dalam RPH di tiga perkara.

Pengumuman Hasil Pemeriksaan Etik Hakim Mahkamah Konstitusi: Demi Keadilan yang Pasti dan Cepat

Jimly mengungkapkan bahwa ada dua alasan yang berbeda terkait ketidakhadiran Anwar dalam RPH, yaitu untuk menghindari konflik kepentingan dan alasan sakit. Namun, ada dugaan bahwa salah satu alasan tersebut adalah bohong.

Anwar Usman membantah tudingan tersebut dan bersumpah bahwa dia memang sakit pada saat itu. Pemeriksaan MKMK lebih banyak membahas terkait pelanggaran kode etik yang terkait dengan proses RPH. MKMK menyebut memiliki bukti lengkap yang mendukung dugaan pelanggaran kode etik tersebut.

Ketua MKMK, Jimly, menyatakan bahwa hakim yang paling bermasalah secara etik di balik putusan tentang syarat usia calon presiden dan calon wakil presiden adalah hakim yang paling banyak dilaporkan. Dari 21 laporan dugaan pelanggaran etik hakim yang masuk, Anwar Usman menjadi pihak terlapor paling banyak dengan 15 laporan. Diikuti oleh hakim Manahan M.P. Sitompul dan Guntur Hamzah masing-masing dengan 5 laporan.

Pengumuman hasil pemeriksaan etik ini telah dinantikan dengan cermat oleh publik, dan hasilnya akan diumumkan pada Selasa (7/11). Jimly mengingatkan bahwa demi keadilan, keputusan harus pasti dan cepat sebelum tanggal 8. Semoga hasil pengumuman ini akan memberikan kejelasan terkait dugaan pelanggaran etik hakim-hakim MK, dan menjadi langkah penting dalam memelihara integritas dan kepercayaan publik terhadap Mahkamah Konstitusi.***

Post a Comment for "Pengumuman Hasil Pemeriksaan Etik Hakim Mahkamah Konstitusi: Demi Keadilan yang Pasti dan Cepat"